Kementerian UMKM Dorong Pesantren Jadi Inkubator Bisnis bagi Santri Nahdliyin

NEWSINDONESIA.web.id, Jakarta — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mendorong pesantren mengambil peran lebih besar dalam pengembangan kewirausahaan. Pesantren dinilai memiliki potensi menjadi inkubator bisnis yang dapat melahirkan pengusaha baru sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

Deputi Perencanaan Kementerian UMKM dalam pidatonya pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pertama organisasi UMKM Nahdliyin menekankan pentingnya membangun ekosistem usaha yang tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah wirausaha, tetapi juga keberlanjutan bisnis.

Menurut dia, pelaku UMKM membutuhkan pendampingan agar mampu mengembangkan produk, mengakses pembiayaan, memperluas pasar, dan mengelola usaha secara profesional.

“Yang kita bangun itu bukan sekadar jumlah wirausahanya, melainkan kualitas dan keberlanjutan usahanya,” ujarnya dalam pidato tersebut.

Ia mengatakan, potensi ekonomi berbasis pesantren dan komunitas Nahdliyin terbuka di berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman, produk halal, pertanian, perdagangan, hingga ekonomi kreatif dan teknologi digital.

Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan penguatan kapasitas pelaku usaha. Menurut dia, masih banyak UMKM yang memiliki produk berkualitas, tetapi belum memahami cara menyusun perencanaan bisnis, menghitung keuntungan secara tepat, dan memasarkan produk secara lebih luas.

Karena itu, ia mendorong organisasi UMKM Nahdliyin memperkuat pendampingan terhadap anggotanya. Pesantren juga diharapkan tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi menjadi ruang pembelajaran kewirausahaan bagi para santri.

“Seorang lulusan pesantren itu tidak harus bisa cuma berdakwah, tapi harus bisa berbisnis,” kata dia.

Dorong Akses Pembiayaan dan Digitalisasi UMKM

Selain penguatan kapasitas usaha, Deputi Perencanaan Kementerian UMKM tersebut menyoroti pentingnya memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro dan kecil.

Ia menyebutkan, masih banyak pengusaha kecil yang ragu mengajukan pembiayaan ke lembaga keuangan karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Kondisi itu, menurut dia, perlu dijawab melalui pendampingan dan pembinaan yang lebih dekat dengan komunitas usaha.

Dalam pidatonya, ia menyampaikan bahwa pemerintah mengembangkan layanan digital melalui aplikasi Sapa UMKM. Aplikasi tersebut diperkenalkan sebagai sarana untuk membantu pelaku usaha mengakses informasi mengenai layanan pemerintah, pelatihan, perizinan, dan pembiayaan.

Ia juga menyebut program yang dalam transkrip disebut sebagai “prokrestra produktif”, yang dijelaskan sebagai upaya mengintegrasikan layanan kementerian dan lembaga untuk memudahkan pelaku UMKM. Nama resmi program tersebut masih perlu dikonfirmasi.

Menurut dia, pemanfaatan teknologi menjadi penting karena jumlah UMKM di Indonesia sangat besar, sementara kapasitas sumber daya manusia pemerintah untuk menjangkau seluruh pelaku usaha terbatas.

Dalam kesempatan itu, ia turut menyinggung Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan menyebut penyaluran pembiayaan UMKM telah mencapai Rp 1.519 triliun. Ia juga menyampaikan angka 56,7 persen untuk pembiayaan yang diakses usaha produktif hingga Oktober 2026.

Namun, periode pengukuran, cakupan data, dan satuan angka tersebut perlu dikonfirmasi kepada Kementerian UMKM sebelum dipublikasikan sebagai data resmi.

Pesantren Diharapkan Melahirkan Pengusaha Berkelanjutan

Kementerian UMKM juga mendorong pengembangan inkubator bisnis di lingkungan pesantren. Dalam pidatonya, pejabat tersebut menyebut terdapat 757 inkubator bisnis yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Inkubator bisnis diharapkan membantu santri dan pelaku UMKM mengembangkan gagasan usaha menjadi bisnis yang memiliki perencanaan, pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, dan akses pasar yang lebih baik.

Ia menilai jaringan pesantren dan komunitas Nahdliyin dapat menjadi kekuatan untuk memperluas pemasaran produk. Kolaborasi antarpelaku usaha, pesantren, pemerintah, dan sektor swasta dinilai penting agar produk UMKM memiliki kesempatan masuk ke pasar yang lebih luas.

Ia mencontohkan kemungkinan produk UMKM Nahdliyin dipasarkan melalui berbagai saluran distribusi, termasuk gerai di stasiun dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Selain itu, ia mengajak organisasi UMKM Nahdliyin mendorong generasi muda dan santri agar berani memulai usaha. Pengusaha dari kalangan santri yang telah berhasil diharapkan dapat menjadi teladan dan berbagi pengalaman dengan santri di pesantren lain.

Menurut dia, keberhasilan kewirausahaan tidak semata-mata diukur dari besarnya keuntungan, tetapi juga manfaat yang diberikan kepada masyarakat.

“Usaha boleh semakin besar, tetapi kepentingan terhadap sesama juga harus semakin kuat,” ujarnya.

Ia berharap Rakernas pertama organisasi UMKM Nahdliyin menghasilkan program kerja konkret untuk memperkuat usaha di lingkungan pesantren dan masyarakat. Organisasi tersebut juga didorong memperluas kemitraan serta membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan nasional.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama